Tugas Terstruktur Dosen
Pembimbing
Pendidikan Agama Islam ...........................
IMAN KEPADA MALAIKAT DAN MAKHLUK
GHAIB LAINNYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
TAPANULI SELATAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas kekuatan,
kesempatan dan kemampuan yang diberikan-Nya pada penulis sehingga makalah ini
dapat diselesaikan.
Penulis
menyadari bahwa pada makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena
itu penulis mengharapkan masukan terutama kepada dosen pembimbing, untuk
membangun perbaikan di masa yang akan datang.
Akhirnya
penulis ucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah memberikan bantuan
dalam penyusunan makalah ini, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………. i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………… ii
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang………………………………………………………………... 1
B.
Rumusan Masalah…………………………………………………………….. 1
C.
Tujuan………………………………………………………………………… 1
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Pengertian Malaikat…………………………………………………………… 2
B.
Pengertian Iman Kepada Malaikat…………………………………………….. 3
C.
Fungsi Iman Kepada Malaikat…………………………………………………. 3
D.
Sifat-Sifat
dan Nama Malaikat yang Wajib diketahui Serta Tugasnya………… 4
E.
Makhluk ghaib
lainnya.......................................................…………………….. 6
BAB
III PENUTUP
A.
Kesimpulan……………………………………………………………............. 9
DAFTAR
PUSTAKA………………………………………………………….............. 10
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Allah SWT tidak hanya menciptakan makhluk yang
tampak saja, tetapi Allah Swt juga menciptakan makhluk yang tidak nyata atau
makhluk ghaib, sebagai contoh adalah malaikat. Sebagai makhluk ghaib, wujud
Malaikat tidak dapat dilihat, didengar, diraba, dicium dan dirasakan oleh
manusia, dengan kata lain tidak dapat dijangkau oleh panca indera, kecuali jika
malaikat menampakkan diri dalam rupa tertentu, seperti rupa manusia. Makhluk
ghaib lainnya yang diciptakan Allah diantaranya adalah malaikat, jin dan iblis
atau setan. Dari ketiga makhluk ghaib tersebut terdapat perbedaan-perbedaan
baik dari asal penciptaan maupun sifat-sifatnya.
Beriman kepada malaikat
adalah satu dari rukun iman. Dengan kata lain, iman seorang hamba kepada Allah
tidak akan sempurna kecuali dengan menegakkan rukun iman, yang diantaranya
adalah beriman kepada malaikat Allah. Beriman akan adanya malaikat adalah
wajib. Iman kepada malaikat ini, masuk kedalam iman kepada sesuatu yang ghaib. Orang
yang mengingkari akan adanya hal ini berarti mengingkari keterangan Al-qur’an
dan Rasul.
B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan judul makalah yang dibahas, maka ditemukan
beberapa permasalahan yang timbul yaitu tentang pengertian malaikat,
sifat-sifat malaikat, nama dan tugas-tugasnya serta tentang makhluk ghaib
lainnya.
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari
penulisan makalah ini adalah:
- Agar Penulis dan Pembaca dapat mengetahui tentang malaikat dan makhluk ghaib lainnya serta mampu mengembangkan wawasan tentang permasalahan yang telah dirumuskan.
- Untuk melengkapi Tugas pada mata kuliah Pendidikan Agama Islam yang dibimbing oleh Bapak Dosen.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Malaikat
Menurut Hafizh Ibn Hajar al-‘Aqsalani dalam
bukunya yang berjudul Fathul Bahri bahwa kata malaikat itu merupakan
bentuk jamak, bentuk (dari kata) tuggalnya adalah malak yang berarti
kekuatan. Sedangkan sebagian ulama mempunyai pendapat yang berbeda dalam
menerangkan arti malaikat secara bahasa, diantaranya adalah: Pertama, Kata
Malaikat adalah berasal dari kata malik yang berarti “si empunya (yang
memiliki). Kedua, Kata Malaikat
berasal dari kata malkun yang berarti “yang bertindak dengan kekerasan”.[1]
Adapun mayoritas ahli
kalam dari kaum muslim mengatakan bahwa para malaikat itu adalah jisim-jisim
halus yang dianugerahi kemampuan untuk mengubah bentuknya oleh Allah dengan
rupa yang bermacam-macam, dan tempat mereka adalah di langit.[2] Orang-orang yang mengatakan, bahwa para malaikat itu adalah
bintang-bintang atau jiwa-jiwa pilihan (utama dan mulia) yang telah terpisah
dari jasadnya merupakan perkataan-perkataan yang tidak ada dasarnya dalam
dalil-dalil syari’at. Menurut Ibnu Sina, malaikat (malak) itu adalah
substansi yang sangat sederhana, hidup, berbicara dan berakal, menjadi
perantara antara makhluk dengan Tuhan.[3]
Zat yang merupakan penyebab dari terciptanya
malaikat adalah nur (cahaya). Dari Aisyah diriwayatkan, bahwa telah
bersabda Rasulullah Saw: “Malaikat itu telah diciptakan dari nur, dan
jin diciptakan dari api. Sedangkan manusia diciptakan dari apa yang telah
diterangkan kepada kalian (para sahabat). (HR. Muslim).
Adapun tentang masalah “sejak kapankah malaikat
itu tercipta?” kita tidak menemukan satu pernyataan (dalil) pun dalam
Kitabullah dan Sunnah yang sahih, yang menerangkan akan hal ini. Yang jelas,
mereka tercipta sebelum diciptakannya Nabi Adam As, dengan dalil firman Allah
Swt dalam surat Al-Baqarah ayat 30:
Artinya:
ingatlah ketika
Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang
khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?” Allah berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang
tidak kamu ketahui”.[4]
B.
Pengertian Iman
Kepada Malaikat
Malaikat adalah makhluk Allah yang berjisim,
tidak dapat dilihat, dirasa dan dilihat oleh mata. Malaikat diciptakan dari nur
atau cahaya dan selalu patuh kepada Allah Swt. Oleh karena itu alam malaikat
berbeda dengan alam manusia dengan sifat-sifatnya pasti berbeda pula dengan
manusia. Beriman kepada malaikat adalah percaya bahwa malaikat itu benar-benar
ada, diciptakan oleh Allah Swt dalam alam ghaib, yaitu dari nur atau cahaya dan
mempunyai tugas yang berbeda-beda sesuai dengan ketentuan Allah.[5]
Beriman kepada malaikat ialah mempercayai bahwa
Allah mempunyai makhluk yang dinamai “malaikat”, yang tidak pernah durhaka
kepada Allah, yang senantiasa melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan
secermat-cermatnya. Lebih tegas, iman kepada malaikat ialah beritikad adanya
malaikat yang menjadi perantara antara Allah dengan rasul-Nya, yang membawa
wahyu kepada Rasul-Nya itu.[6]
C.
Fungsi Iman
Kepada Malaikat
Tidak dapat diragui sedikitpun, bahwa beriman
kepada malaikat, lasykar Tuhan yang tidak dapat kita lihat yang mempunyai
beberapa ketentuan dan keistimewaan yang hanya diketahui oleh Khaliqnya saja,
juga iman kepada hari akhirat termasuk ke dalam iman akan sesuatu yang ghaib.
Adapun fungsi iman kepada malaikat adalah:
- Selalu melakukan perbuatan baik dan merasa najis serta anti melakukan perbuatan buruk karena dirinya selalu diawasi oleh malaikat.
- Berupaya masuk kedalam surga yang dijaga oleh malaikat Ridwan dnegan bertaqwa dan beriman kepada Allah Swt serta berlomba-lomba mendapatkan Lailatul Qadar.
- Meningkatkan keikhlasan, keimanan dan kedisiplinan kita untuk mengikuti/meniru sifat dan perbuatan malaikat.
- Selalu berfikir dan berhati-hati dalam melaksanakan setiap perbuatan karena tiap perbuatan yang baik maupun yang buruk akan dipertanggung jawabkan siakhirat kelak.
Sebagai umat islam, kita diwajibkan beriman
kepada malaikat maupun terhadap makhluk yang ghaib lainnya, disini bukan
berarti kita menyembah mereka tapi kita hanya diwajibkan mengimaninya bahwa
mereka itu ada, dan juga kita tidak perlu mengetahui hakikatnya. Karena itu,
bila ada keterangan yang mengatakan bahwa malaikat itu bersayap, maka hendaklah
kita pahami bahwa sayap malaikat tidak serupa dengan sayap burung. Apabila
dikatakan, bahwa malaikat itu dibebankan tugas menjaga alam, tubuh,
tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya, maka hendaklah dipahami bahwa di alam ini, ada
lagi alam yang lebih halus dari alam yang dapat kita jangkau dengan pancaindera.
Tegasnya, malaikat itu adalah makhluk ghaib yang tidak dapat kita ketahui
hakikatnya.
D. Sifat-Sifat dan Nama
Malaikat yang Wajib diketahui Serta Tugasnya
Seperti yang kita ketahui
bahwa malaikat memiliki sifat-sifat tersendiri yang pada dasarnya mereka hanya
menjalankan perintah Allah dan tidak pernah sedikitpun murka kepada Allah.
Sifat-sifat malaikat yaitu:
1.
Selalu patuh terhadap apa-apa yang diperintahkan Allah kepada mereka.
2. Malaikat selalu bertasbihkepada Allah SWT.
3. Mereka diciptakan dari nur
atau cahaya.
4. Malaikat tidak dilengkapi
dengan hawa nafsu, tidak memiliki keinginan seperti manusia.
5. Tidak berjenis lelaki atau
perempuan, dan tidak berkeluarga.
6. Malaikat tidak pernah
lelah dalam melaksanakan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka.
7.
Mereka tidak makan, minum atau tidur seperti
manusia.
8.
Mereka tidak bertambah tua ataupun bertambah
muda, keadaan mereka sekarang sama persis ketika mereka diciptakan.
9. Malaikat dapat berubah
wujud dan menjelma menjadi yang dia kehendaki.
10. Malaikat bersifat tawadlu’/tidak menyombongkan diri.
11. Mereka memohon
ampunan bagi orang-orang yang beriman.
Malaikat memiliki fungsi tertentu, fungsi utama
malaikat berkenaan dengan tugasnya terhadap manusia dan sebagai pelaksana
kehendak Allah. Diantara tugas-tugas dan fungsi malaikat ialah sebagai berikut:
1.
Malaikat berfungsi sebagai utusan penyampaian
wahyu.
2.
sebagai pengawas manusia.
3.
sebagai pencatat segala perbuatan manusia.
4.
untuk mendatangkan azab kepada umat yang zalim
serta mereka yang mengingkari ayat-ayat Allah.
5. sebagai pengantar untuk
memperkuat para nabi/rasul dan kaum muslimin.
6.
menolong dan memintakan ampun bagi mereka yang
ada di Bumi.
7.
memantu meningkatkan kehidupan rohaniah manusia
untuk senantiasa berbuat baik, sebagai penjaga neraka.
8.
menyampaikan berita gembira kepada manusia yang
berhak masuk surga.[7]
Malaikat sangat banyak jumlahnya. Mengenai
berapa banyak jumlah malaikat tidak ada yang dapat mengetahui secara pasti
kecuali hanya Allah SWT, sebagaimana dalam firman-Nya:
Artinya:
dan tiada Kami
jadikan penjaga neraka itu melainkan dari Malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan
bilangan mereka itu melainkan untuk Jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya
orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman
bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al kitab dan orang-orang
mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada
penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): “Apakah yang dikehendaki Allah
dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan
sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia
sendiri. dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia”. (QS.
Al-Muddatsir:31).
Akan tetapi, ada juga beberapa keterangan yang
menggambarkan akan banyaknya jumlah malaikat. Diantaranya adalah sabda
Rasulullah Saw pada hadits yang menerangkan peristiwa isra’ dan mi’raj, yaitu
ketika beliau melewati langit ke 7: “kemudian aku dinaikkan ku baitul makmur
dan tiba-tiba aku menemukan pada setiap hari ia dimasuki oleh 70.000
malaikat………(HR. Bukhari Muslim).
Dari Ibn Mas’ud diceritakan bahwa telah
bersabda Rasulullah saw: “Pada hari itu akan dimasukkan ke dalam neraka
jahannam 70.000 kelompok orang yang berdesakan, sedangkan untuk setiap kelompok
itu terdapat 70.000 malaikat yang menyeret…(HR Muslim, Tarmidzi).
Ulama mengatakan: wajib diketahui dengan jelas
sepuluh nama malaikat yang mempunyai tugas-tugas tertentu, yaitu::
1.
Jibril : Menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan Rasul
Allah.
2.
Mikail : Membagi
rezeki kepada seluruh makhluk, di antaranya menurunkan hujan.
3. Israfil : Meniup
sangkakala (terompet) pada hari kiamat.
4.
Izrail/Maut : Mencabut
nyawa seluruh makhluk.
5. Munkar : Memeriksa
amal perbuatan manusia di alam kubur.
6.
Nakir : Memeriksa amal perbuatan manusia di alam
kubur).
7.
Raqib : Mencatat amal baik manusia ketika hidup di
dunia .
8.
Atid : Mencatat amal buruk manusia ketika hidup di dunia.
9.
Malik : Menjaga neraka dengan bengis dan kejam.
10.
Ridwan : Menjaga sorga dengan lemah lembut
E.
Makhluk Ghaib
Lainnya
Selain malaikat, Allah juga menciptakan makhluk
ghaib lainnya seperti yang sering kita dengar atau kita ketahui yaitu Jin,
Iblis dan Setan.
Beriman kepada yang ghaib adalah termasuk salah
satu asas dari akidah Islam, bahkan ianya merupakan sifat yang pertama dan
utama yang dimiliki oleh Allah SWT Justru itu, bagi setiap orang Muslim, mereka
wajib beriman kepada yang ghaib, tanpa sedikitpun ada rasa ragu. Dalam perkara
ini Ibn Mas’ud mengatakan: Yang dimaksudkan dengan yang ghaib itu ialah segala
apa saja yang ghaib dari kita dan perkara itu diberitahukan oleh Allah dan
Rasul-Nya. Begitu juga jin. Jin termasuk makhluk ghaib yang wajib kita imani,
kerana banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang menerangkan tentang
wujudnya.
Walaupun jin itu tidak dapat dilihat, maka
bukanlah bererti ia tidak ada. Sebab berapa banyaknya sesuatu yang tidak dapat
kita lihat di dunia ini, akan tetapi benda itu ada. Angin misalnya, kita tidak
dapat melihatnya, tetapi hembusannya dapat kita rasakan. Begitu juga roh yang
merupakan hakikat dari kehidupan kita, kita tidak dapat melihatnya serta tidak
dapat mengetahui tentang hakikatnya akan tetapi kita tetap meyakini wujudnya.
Jin, iblis dan setan masih
menyisakan kontroversi hingga kini. Namun yang jelas, eksistensi mereka diakui
dalam syariat. Sehingga, jika masih ada dari kalangan muslim yang meragukan
keberadaan mereka, teramat pantas jika diragukan keimanannya. Dengan adanya
berbagai pendapat tentang Jin, iblis dan setan maka kami pemakalah berusaha
untuk mejelaskan tentang makhluk ghaib ini sesuai dengan apa yang kami ketahui.
Jin termasuk makhluk halus yang tidak dapat dilihat oleh
mata manusia.Diciptakan dari api yang panas.Sebagaimana firman Allah SWT dalam
(QS. Al-Rahman: 15).
Artimya:
Dan dia menciptakan Jin dari nyala api.[8]
Manusia dan jin diciptakan oleh Allah untuk beribadah. Hal ini tercantum
dalam (QS. Adz-Dzariyaat: 56).
Artinya:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada-Ku.[9]
Dari ayat ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Jin
dan Manusia sama derajat dan kedudukannya di sisi Allah, yaitu untuk menyembah
dan beribadah kepadaNya.
Firman Allah swt:
Artinya:
dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlah kamu
kepada Adam, Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin,
Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil Dia dan
turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah
musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi
orang-orang yang zalim.[10]
Dari firman Allah diatas,
maka dapat kita ketahui bahwa sebenarnya iblis itu merupakan golongan jin yang
dulunya pernah berada di surga dan diciptakan sebelum terciptanya manusia. Asal usul jin
dan terciptanya jin sebelum manusia dapat kita ketahui berdasarkan firman Allah
Swt :
Artinya:“Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang
berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.“[11]
Jin dicipatakan oleh Allah
dari api yang sangat panas, sedangkan iblis dan setan merupakan golongan dari
jin. Kata iblis berasal dari bahasa Arab Iblas yang artinya putus
dari rahmat atau kasih sayang Allah. Sedangkan kata setan berasal dari
bahasa arab syithana yang artinya jauh. Jadi, setan artinya sangat
jauh, yaitu sangat jauh dari kebajikan dan sangat dekat dengan kejahatan.[12]
Setan sebenarnya dari
nafsu jelek dari manusia maupun Jin. Iblis adalah nama jin yang dulunya di
Surga yang pernah tidak menyukai Adam dan Hawa. Iblis adalah sebutan nama jin
seperti nama orang. Sedangkan Jin adalah bangsa jin yang dari keturunan Iblis
seperti bangsa manusia yang dari keturunan Adam dan Hawa.
Jin diciptakan dari api, ada jin yang Islam dan ada yang
kafir. Iblis dan syetan diciptakan dari
api, memiliki sifat mendurhakai Allah SWT.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari penjelasan yang telah
dipaparkan maka dapat disimpulkan:
1. Malaikat adalah makhluk
Allah yang berjisim, tidak dapat dilihat, dirasa dan dilihat oleh mata yang
merupakan lasykar Allah atau bisa dikatakan para kabinet-kabinet Allah yang
memiliki tugas masing-masing.
2. Malaikat tercipta dari
cahaya, sedangkan jin tercipta dari api yang sangat panas.
3. Jumlah para malaikat
sangat banyak dan tidak dapat diketahui jumlah keseluruhannya dan malaikat
tidak bertambah maupun berkurang, mereka tidak akan mati hingga hari kiamat,
tapi terdapat 10 malaikat yang mesti kita ketahui yaitu Jibril, Mikail, Israil,
Israfil, Munkar, Nakir, Atid, Raqib, Malik, Ridwan.
4.
Malaikat tidak pernah ingkar maupun membangkang terhadap Allah Swt, mereka
selalu mengerjakan perintah-Nya tanpa rasa lelah. Mereka juga
tidak tidur, makan, minum atau lain sebagainya yang dilakukan seperti manusia.
5.
Jin ada yang Islam dan ada yang Kafir, Iblis
merupakan golongan dari jin yang dulunya pernah tinggal di surga. Jin dan
Syetan semuanya Kafir karena mendurhakai Allah SWT.
Seperti yang telah kita tahu bahwa iman adalah
sesuatu yang kita percayai atau yakini dalam hati, dan kita ucapkan atau ikrarkan
dengan lisan dan kita wujudkan dalam bentuk amal perbuatan dengan anggota
tubuh. Dan rukun iman yang enam itu haruslah kita percayai keberadaannya.
Beriman kepada yang ghaib merupakan rukun iman
yang enam tersebut. itu artinya kita mempercayai dan meyakini bahwa segala
sesuatu yang ghaib atau yang tidak bisa kita lihat dengan kasat mata itu benar
ada. Contohnya seperti malaikat, syetan/ iblis dan jin. Jika kita meyakini dan
mengimani dengan sebenar- benarnya keimanan, insya Allah kita bisa menjadi muslim
yang kaffah (utuh) keimanannya. Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Bayumi Muhammad, Malaikat
Langit dan Bumi, Jakarta: Cendekia Sentra Muslim, 2000
Departemen
Agama RI., AL-Qur’an dan Terjemahannya,
Bandung: PT Syamil Media Cipta, 2005
Hasbi Ash Shiddieqy T.M., Prof. Dr., Al-Islam
1, Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1998
Soepardjo, Drs. S.Ag dan Ngadiyanto, Drs.,
Mutiara Akhlak dalam Pendidikan Agama Islam, Solo: Tiga Serangkai,
2004
Zainuddin A, S.Ag dan Jamhari Muhammad, S.Ag, AL-Islam
1 Aqidah dan Ibadah, Semarang: Pustaka Setia, 1998
[3] Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Al-Islam
1, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1998), h. 196
[4] (QS. Al-baqarah: 30)
ø Î)ur tA$s% /u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚö F{$# Zpxÿ Î=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pk Ïù `tB ß Å¡øÿã $pk Ïù à7Ïÿó¡o ur uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8Ï ôJpt¿2 â¨Ïd s)çRur y7s9 ( tA$s% þ ÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB w tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ
[5] Soepardjo,
dan Ngadiyanto, Mutiara Akhlak dalam Pendidikan Agama Islam, (Solo:
Tiga Serangkai, 2004), h. 45
[7] A Zainuddin, dan Muhammad Jamhari, AL-Islam
1 Aqidah dan Ibadah, (Semarang: Pustaka Setia, 1998), h.111
[9]
(QS. Adz-Dzariyaat: 56).
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur wÎ) Èbrß ç7÷èu Ï9 ÇÎÏÈ
[10] (QS. Al-kahfi : 50)
ø Î)ur $uZù=è% Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 (#rß ßÚó $# tPy Ky (#ÿrß yf|¡sù HwÎ) }§ Î=ö/Î) tb%x. z`ÏB Çd`Éfø9$# t,|¡xÿsù ô`tã Ì øBr& ÿ¾ÏmÎn/u 3 ¼çmtRrä Ï GtFsùr& ÿ¼çmtF Íh è ur uä!$u Ï9÷rr& `ÏB ÎTrß öNèdur öNä3s9 Brß tã 4 }§ø©Î/ tûüÏJÎ=»©à=Ï9 Zwy t/ ÇÎÉÈ
ô s)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 9@»|Áù=|¹ ô`ÏiB :*uHxq 5bqãZó¡¨B ÇËÏÈ ¨b!$pgø:$#ur çm»uZø)n=yz `ÏB ã@ö6s% `ÏB Í $¯R ÏQqßJ¡¡9$# ÇËÐÈ